Masuk

Ingat Saya

Jihad Fi Sabilillah yang Sesungguhnya

Jihad Fi Sabilillah yang Sesungguhnya
Dr. Joel Hunter, Pastor of the Northland Church, left, is hugged by Imam Muhammad Musri, of the Islamic Society of Central Florida, right, before the start of an Interfaith Prayer Service for Peace at St. James Cathedral in Orlando on Tuesday, January 14, 2014. (Stephen M. Dowell/Orlando Sentinel)

Dr. Joel Hunter, Pastor of the Northland Church, left, is hugged by Imam Muhammad Musri, of the Islamic Society of Central Florida, right, before the start of an Interfaith Prayer Service for Peace at St. James Cathedral in Orlando on Tuesday, January 14, 2014. (Stephen M. Dowell/Orlando Sentinel)

Sahabatku, kalian pasti tau makna jihad itu seperti apa kan!. Jihad bisa diartikan sebagai usaha membela agama islam dengan pengorbanan atau perang suci untuk mempertahankan agama islam. Namun, makna jihad akan menjadi bias disaat penggiat Jihad berbekal agama yang diangkal, ia akan mudah terbujuk pada segala cara yang negatif atau radikal yang mengatasnamakan jihad. seperti sosok santoso dan kelompoknya yang menyatakan jihad sejak terjadinya kerusuhan poso. Namun, bukanlah jihad apa yang diusahakanya melainkan aksi terorisme, sebab kerap melakukan teror kepada masyarakat sipil dan bahkan ke anggota kepolisian.

Padahal Jihad sama sekali tidak membenarkan aksi teror dan islam sendiri sangat melarang umatnya untuk berprilaku keras kepada sesama manusia. lantas masih dikatakan seorang santoso sebagai sosok mujahid, yang kini telah tewas ditangan Satgas Tinombola? Tentu sabahat memahami kalau usaha santoso sama sekali tidak mencerminkan jihad yang sesungguhnya. Santoso hanyalah korban dari kerusuhan poso yang menaruh dendam setelah peristiwa kerusuhan poso.

Aksi santoso dimasa hidupnya tidak sebatas mendambakan negara daulah islamiyah, tapi juga anggota kepolisian setempat menjadi target aksi teror kelompoknya. Seperti tragedi bom bunuh diri pada 24 oktober 2012 yang dilakukan oleh anak buahnya di Mapolres Poso, aksi tersebut sebagai tanda balas dendam kelompok santoso kepada pihak kepolisian setempat, dengan alasan pihak kepolisian menghalangi aksi perjuangannya.

Sahabat, apakah dibenarkan dalam islam sikap dendam itu? Lebih-lebih melakukan aksi teror yang membahayakan keselamatan orang lain? Apakah islam mengajarkan seperti itu? Justru islam mengajarkan yang namanya memaafkan, menjaga hubungan baik sesama manusia (walaupun non-muslim) dan mewujudkan lingkungan hidup yang damai dan tentram penuh toleran. Jelaslah secara pemahaman agama dan moral, kalau kelompok santoso yang tergabung dalam Mujahidin Indonesia Timur (MIT) bukan aksi jihad membela agama islam, justru aksinya mencoreng nama islam sebagai agama rahmat bagi seluruh manusia.

Pemahaman agama yang dangkal, menghantarkan kelompok santoso berjuang dalam garis kegelapan islam yang menyimpang. Pemikiran mereka terkunci dengan membenarkan aksi teror sebagai jihad dijalan tuhan. Mereka tidak memikirkan keselamatan nyawa orang lain, selagi siapa saja yang dianggap target dan musuh kelompok MIT tersebut, maka wajib bagi mereka untuk melakukan aksi teror.

Perlunya kita memahami esensi jihad itu seperti apa, yang berawal dari bekal agama yang baik dan benar. Karena jihad merupakan perjuangan bukan meneror sesama manusia, makna jihad pun tidak sebatas pada perjuangan untuk membela islam. justru jihad itu berawal dari diri sendiri, yakni untuk menjadi insan yang baik bagi diri dan orang lain. Seperti sabda Nabi Muhammad Saw kepada sahabat setelah selesai pulang dari peperangan : “kalian menuju kepada tujuan yang terbaik. Kalian menuju dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Sahabat bertanya: “apa itu jihad yang lebih besar?” Nabi menjawab: “Perjuangan seorang hamba melawan hawa nafsunya.” Mengapa jihad melawan hawa nafsu itu jihad paling besar? Karena musuh yang harus dihadapi tersembunyi dalam diri manusia, berupa keinginan kepada sesuatu yang memberi kesenangan kepada jasmani maupun rohani.

Kelompok Santoso dalam Mujahidin Indonesia Timur merupakan contoh sekelompok pemaham radikal yang masih tunduk pada nafsu dan mengikuti arahan nafsunya untuk mencapai keinginan dengan membahayakan keselamatan nyawa orang lain. Maka bagaimana bisa dikatakan seorang mujahid jika hawa nafsunya saja tidak dapat dikendalikan dengan baik, padahal menundukkan hawa nafsu merupakan jihad yang lebih besar.

Dengan